Perisai Bhinneka itu | INFO INDONESIA

adsterra

TS

Perisai Bhinneka itu


Oleh: captn.

Perisai Bhinneka itu

              Malam Jakarta  terasa lebih romantis. Lampu kuning tua  menemaniku, bersama novel, berjudul Rindu karya Tere Liye. Hawa rendah sungguh terasa kental,  rumah ini serasa rusa, yang terhimpit t-rex zaman mesozoikum. Pencakar langit yang teronggak dinamis diangkasa kota, berjajar tak terurus, tak merukuni rumah kecil semacam ini. 5 menit kugunakan memarkirkan kepala diatas tumpukan novel tadi, tak sengaja asta1 ini meraba  dan spontan mengambil buku tebal dan kusam, dicovernya tak nampak icon ataupun tulisan sebagai pemanis buku. Halaman pertama, gambar perisai emas terpampang tepat ditengah halaman. Greeetttt, siuuuuuuuut, kepalaku berdebar keras bak lap pacu F1, yang dipakai race oleh Lewis Hamilton.  Penyerangan semu akhirnya usai, nafasku bak terhenti selama 8 menit, kurang sedetik. Perisai itu sungguh mengingatkanku masa kelam, saat diriku masih terombang gelombang jati diri.
* * * * *
Kisah itu bermula.....
                    Tulungagung, 1974, 04 Februari, Mataku melirik meja, serasa ada magnet dengan medan magnetnya yang berusaha menyuruh badan mendatanginya. Diriku diherankan karena laptopku terbuka, tanpa logis kukunjungi Chrome dan web Google, sebelum kuketikkan perintah pencarian ke search engine itu, justru diriwayat telah tertulis Nagroe Aceh Darussalam. Karena diriku penasaran, kutelusuri kota Serambi Mekkah itu, sampai tak terasa soca2 ini telah terlelap diatas pangkuan keyboard laptop Acer waktu itu. 

                  Panggilan suci Sang Illahi membangunkanku waktu itu, njanur gunung3 diriku, biasanya masih terlelap dalam dunia imajinasi. Diri ruku' dan sujud bersama jamaah , berselimutkan tipisnya kabut fajar yang menentramkan jiwa. Sesampainya dikamar hp-ku bergetar, dilayar notifikasi tertuliskan 1 chat dari 1 kontak.
" Gimna udah nemuin rfrensi liburan blm? "
Chat itu dari Dima dan pikirku saat itu, langsung terpintas kota Aceh, yang kukunjungi kemarin didunia maya." Acehhh, bisa juga nihh ",  monologku sambil menggagguk-anggukkan mustaka4. Dari chat Dima ku balas dengan singkat, padat, dan jelas, terbaca: " ACEH " Dan selang 10 detik.
" Haaa, ngk slh liat ya gue, msa aceh. Mngkin loe msh nggigo yaa. "

                  Hari berganti hari, tak terasa. Masa cuti semester tiba. Kamis malam, tanggal 14 Maret 1974. Aku berangkat bersama Dima menuju Bandara Internasional Juanda, Kota Pahlawan, memang di Tulungagung belum ada bandar udara, entah mengapa ?. Hari itu gerimis menyapa, turun membawa berkah, iringi perjalanan sendu tanpa tawa. Sebelumnya, diri ini telah packing, beberapa baju ganti kubawa, tak lupa sebuah kotak hitam kecil yang berisi miniatur perisai berwarna emas, hadiah dari almarhum kakekku, juga kubawa.

                Sekitar pukul 4 dini hari, sang Batik Air mengusung kami menjelajahi hamparan ruang udara menuju Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, NAD. Kami memutuskan untuk langsung ke Masjid Baiturrohman, Aceh. Setelah tiba, ratusan pasang mata yang hadir, menggetarkan hati ini, pemandangan yang jarang kutemui, hadir jumat itu, sungguh diluar nalar bagiku, begitu kompaknya mereka dalam menyeru kebajikan jumat. 
" Gimana kalau kita cari Sate Madura, disisi kan tempat asalnya. " uji coba humor Dima 
Diri ini terdiam seribu bahasa, melirik pancaran matanya yang aneh, saat mendengar ajaan itu, selama beberapa ketukan, laluku jawab dengan siris,
" Dim, jaga kesehatanmu." 
Tak disangka dikiri jalan, bertuliskan " Rumah Makan Khas Aceh ". Karena terpikat, kami mampir ketempat itu. Saat itu, kami tidak tahu apa yang kita santap, namun kuakui rasanya khas, khas nusantara. Saat akan pergi, ada seorang kakek yang rambutnya telah beruban, beliau juga berjenggot putih panjang. Beliau berkata,
" Nak, dari Jawa ya? "
" Iii......iyaaa, ada apa ya kek? " jawabku terbata-bata dan sedikit ragu 
" Ada titipan buatmu nak." sambil menyadurkan sebuah bungkusan berwarna hitam, dan kakek itu langsung pergi tanpa salam.

Baca juga : Tahun Baru 2019

         Akhirnya kami berdua waktu itu memutuskan mampir di aloon aloon kota untuk membukanya. Didalamnya adalah sebuah lencana berwarna hitam dengan simbol bintang, namun hanya 4 pilar (seperti telah terpecah satu), dari belakang lencana itu juga tertulis angka satu Abjad Hijayyah. Setelah 3 hari melanglang buana menjelajahi kota Serambi Mekah tersebut, akhirnya kami memutuskan kembali ke Tulungagung. Setelah kami mem-booking tiket pada tanggal 18, Hari Senin siang. Dan kami mengira bahwa kami landing di Surabaya. "Kok, sedikit aneh ya." batinku saat itu. Setelah kami telusuri, haa Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Lagi-lagi seseorang menyisipkan plastik diransel kami. Ternyata didalamnya ada lencana bergambarkan rantai dengan background merah, Dan kejadian seperti itu, terus continue hingga kami berdua terus tersesat sampai Kota Yogyakarta, Samarinda, dan Jayapura. Di Kota Budaya tersebut kami diberi lencana pula dengan gambar pohon beringin warna hijau subur,  dari orang yang tidak kami kenal pula, dan dibalik lencana ketiga tersebut terukir dua motif Aksara Jawa. Lain dari itu, ketika kami terjerumus di Kota Tepian (Samarinda) itu, kami diberi lencana bergambar kepala banteng yang balance antara tanduk satu dengan lainnya. Dan ketika di Jayapura, kami diberi makan papeda, bersama sagu sebagai sumber karbohidrat tubuh.  Ketika suapan terakhirku kumasukkan kemulut tiba-tiba hal aneh muncul dirasa mulutku...
" Huaalkkkkk" sambil memuntahkan suapan papeda
" Apa ini ?" ucap retorisku saat itu.
Ternyata sebuah lencana putih dengan simbol  padi dan kapas hampir kutelan. Dan " kita bhineka ". Singkat cerita, kami diantar oleh pria yang hanya memakai koteka menuju bandara.    
* * * * *
               Rasa senang menghampiri dua hati saat itu, karena kulihat hamparan kota Persebaya. 24 Maret 1974, 10 hari telah kulalui mengitari zamrut khatulistiwa, tanah ibu pertiwi . Ketika jingganya dunia menghampiriku, Dima kuajak memecahkan teka-teki itu. Kotak hitam kubuka dengan hati-hati, dari dalam kotak kukeluarkan semua lencana tersebut dan kujajarkan rapi bak tentara yang akan di apelkan. Mengalami kebuntuan tuk mencari solusi dan arti tersirat dari semua tanda tersebut adalah aku. Tiba-tiba otak bulus Dima mulai encer, ia membalikkan semua lencana tersebut. Dan setelah kulihat ada beberapa pesan, padahal diriku sudah mengetahui itu sebelumnya, namun entah apa dan mengapa, diriku dilupakan atas semua itu.

         Dari lencana itu masing-masing bertuliskan: 1.) Aceh: angka satu dari Abjad Hijayyah dan  " gabungkan ", 2.) Bali: " dan juga rawat semua ", 3.) Jogja: dua motif Aksara Jawa, ditelusuri oleh Dima dengan bantuan buku pepak bahasa jawa, artinya " tiga ", 4.) Bugis: nihil, 5.) Papua: " kita bhineka ". Data yang telah terpecahkan tersebut, kami berdua masih ling-lung5 arti semua itu. Dan waktu itu diriku ingat pada buku milik kakekku yang berisi kisah masa kolonialisme, yang buku itu telah kutemukan kembali tadi, dan yang menginspirasiku tuk menulisnya dalam narasi diaryku. 

          Dan disaat itu kubaca bahwa dulu kakekku adalah veteran Indonesia sebelum negeri ini diproklamasikan oleh dwi tunggal proklamator. Dari buku itu juga dijabarkan bahwa kakekku memiliki sahabat dari 5 pulau berbeda di Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Bali, Borneo, dan Papua. Dari cerita itu sedikit membukakan teka-teki yang ku alami. Juga disebutkan bahwa setelah kontestasi itu, seorang pahlawan bernama Moh. Yamin memberikan lambang negara, yaitu  Burung Garuda, yang sekaligus menjadi lambang ideologi negeri berdikari ini. Akhirnya, kakekku dan sahabat-sahabatnya membuat sebuah kenangan yang terinspirasi dari Garuda Pancasila yang membawa perisai didadanya. Singkat cerita dari buku itu, kakekku mendapatkan kenangan berupa miniatur perisai berwarna emas, dan kelima sahabatnya masing-masing mendapatkan lencana dari miniatur perisai itu. Dima yang menyimak pembacaan cerita buku kakekku itu, seketika itu langsung merangkainya dan ternyata it's right, bahwa semua itu membentuk satu kesatuan yang utuh, diatas kullu6 perbedaan . Yakni icon 5 pilar sila Pancasila, namun sayang karena lencana bintang telah rusak dan tinggal 4 pilar, entah? Atau karena dimakan usia.
Kisah itu berakhir.....
* * * * *
           Malam hari ini kukenang cerita bersejarah itu, dan aku adalah Alyandro 'Arasy yang biasa dipanggil Ras, menurut cerita ibuku bahwa yang memberi nama diriku bukanlah orangtuaku melainkan Bu Lintang, teman dekat ibuku, yang arti nama tersebut adalah "Pemimpin Qoum yang Luhur", dan aku merupakan seorang alumni mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri Tulungagung. Kini aku telah berumah tangga, dan mendiami rumah kecil di ibukota negara. Kali ini telah kuketahui bahwa hakikat manusia diciptakan adalah untuk saling mengisi diantara kekurangan yang ada. Terlebih dengan perisai bhinneka itu, yang dapat melunakkan hatiku dan merubah pola pikirku tuk menjadi manusia konkritnya, karena bangsa ini besar bukan karena kuantitas, tapi karena kuakitas perbedaan SARA yang dihargai, dalam semboyan " BHINNEKA TUNGGAL IKA ". 


1.asta:  tangan, 2.soca:  mata, 3.njanur gunung: (pephindan Jawa) ,4.mustaka: kepala, 5.ling-lung:  bingung, 6.kullu:  masing-masing.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perisai Bhinneka itu"

Post a Comment

btc