Hallo Gy, apa kabar ? Baik2 saja bukan ? Semoga selalu baik2
saja yah J
Mau cerita banyak ke Bloggy, ya ya ya bloggy pasti tau aku datang kalau sedang merasa ada masalah dan butuh buat tempat curhat. Banyak teman-teman tempat aku sering mencurahkan penat mencurahkan kesedihan kebahagiaan kegelisahan. Ada mereka teman2 SMA aku yang selalu setia meskipun jarak dan waktu memisahkan. Ada mereka teman-teman kuliah yang sering menemani setiap waktu. Sering jadi tempat aku meluapkan tangis, amarah, kebahagiaan. Dan mereka dengan senang hati menerimaku. Selalu ada baik suka maupun duka ({})
Mau cerita banyak ke Bloggy, ya ya ya bloggy pasti tau aku datang kalau sedang merasa ada masalah dan butuh buat tempat curhat. Banyak teman-teman tempat aku sering mencurahkan penat mencurahkan kesedihan kebahagiaan kegelisahan. Ada mereka teman2 SMA aku yang selalu setia meskipun jarak dan waktu memisahkan. Ada mereka teman-teman kuliah yang sering menemani setiap waktu. Sering jadi tempat aku meluapkan tangis, amarah, kebahagiaan. Dan mereka dengan senang hati menerimaku. Selalu ada baik suka maupun duka ({})
Jum’at 10 Januari 2013 Selepas Ujian Mata Kuliah
Planktonologi
Aku, Nenden, Nopi, Ica, dan Dita asyik ngobrol di pojok
kelas. Entah ada angin apa saat Ica dan Dita cerita tiba – tiba aku nangis. Aku
nangis karena aku pikir mereka memiliki masalah yang jauh lebih rumit dari aku
dan mereka jauh lebih kuat. Aku hanya diuji masalah perasaan yang sekali lagi ini
adalah ujian kedua bagiku. Ditengah suasana sedih itu datang si Abang Koplak
Tuyul Sungai Cigambreng
Abang : Eh
temen-temen laporannya jangan lupa dikumpulin yah hard copy ke gue (sibuk
ngutak-ngatik hapenya)
Aku Nenden Nopi Ica Dita : Iyaa
Abang : Ngelirik ke aku, merhatiin dalam – dalam dan berucap
“lo nangis ndut? Kenapa?”
Aku : Ga papa :p
Abang : *Pergi*
Beberapa menit kemudian, Dita dan Ica pergi. Aku Nenden dan
Nopi melanjutkan cerita. Kami bertiga masing-masing mencurahkan unek2 yang ada.
15 menit kemudian ... Abang balik lagi.
Abang : Ndut, kenapa lo? Kok nangis?
Aku : Ihh dibilang gpp.
Abang : Tapi kok lo nangis ? Ngga bisa ngerjain soal?
Aku : Ngga
Abang : Mau pulang?
Aku : Ngga
Abang : Belum makan? Laper?
Aku : ngga’, eh iya deng. Haha (Daripada dia ngga berhenti
nanya -__-)
Abang : Ya udah makan sono, jangan nangis yah. *kemudian
pergi*
Aku : Melongo sejenak dan berpikir
Yaaah, jujur sangat terharu dengan sikap teman aku yang satu
itu. Datang kembali cuma buat nanyain ada apa. Meskipun kami sering berantem,
kerjaannya saling bully, malah yang lebih ekstrem saling tonjok, kalau lagi
kesel atau BT aku sering nonjok dia, dan dia ikhlas2 saja meskipun sedikit
ngegerutu. Tapi kepedulian dan perhatian yang dia tunjukkan bener2 tulus. Tulus
sebagai seorang teman. Dan aku sangat sangat menghargai itu. Terimakasih kawan,
ternyata masih ada yang peduli. Padahal itu hal sepele (mungkin). Bahkan si
kakak yang sebenarnya secara tidak langsung terlibat dalam kesedihanku pagi itu
tidak peduli sama sekali. Tidak masalah. Karena memang tidak ada kewajiban buat
beliau untuk peduli.
Aku sedih sebenarnya karena masalah yang aku hadapi tak
kunjung selesai. Aku hanya ingin melewati masa-masa kuliahku tanpa terlibat
dengan urusan perasaan ke makhluk ciptaan Allah yang bernama “Lelaki”. Yah
kalau kata temen, ini hanya sekedar bumbu – bumbu biar hidup ngga flat-flat
amat. Memang benar, mencintai dan dicintai itu fitrah manusia. Tapi menurutku,
belum saatnya aku memikirkan hal-hal seperti itu. Masalah berfikir atau tidak,
tergantung individu. Aku memaksa untuk tidak memikirkan tapi terpikir -,-.
Jujur aku capek menghadapi ini semua. Aku hanya ingin menganggap semuanya
layaknya saudara sendiri. Aku jauh merantau kesini mendapat keluarga baru itu
adalah anugerah terindah yang diberikan Allah untukku.
Intinya aku hanya salah memposisikan diri, salah memahami,
dan salah membiarkan ini berlarut-larut sejak awal. Salah sendiri sebenarnya.
Makanya harus aku hadapi sendirian pula. Aku tidak menuntut perasaan ini kenapa
harus datang, aku hanya meminta agar perasaan ini segera beranjak pergi, dan
datang kembali ketika orang yang memang benar-benar ditakdirkan Allah untukku
datang berkunjung. Tapi sekali lagi, ini Ujian kedua. Dan aku tidak mau gagal
melewatinya. aku harus jadi manusia yang lebih baik lagi. Karena jujur aku
tidak tau harus lari kemana lagi.
Aku teringat ketika si kakak menuliskan “menjaga kehormatan
perasaannya” yang tentunya bukan buat aku J.
Sedikit terbesit kesedihan, kenapa kakak begitu menjaga perasaan orang itu,
kenapa kakak tidak sedikit saja menjaga perasaan aku atau teman-teman lainnya
yang mungkin beberapa pernah tersakiti ataupun kecewa dengan omongan ataupun
perilakunya. Tidak masalah sebenarnya karena sebagian orang mengerti. (Mungkin)
termasuk aku. Aku hanya sedih ketika kakak datang dan pergi semaunya, tanpa
memikirkan perasaanku. Jujur aku senang meskipun hanya datang di saat butuh
setidaknya itu menandakan kalau keberadaanku masih dianggap. Tidak seperti dulu
saat aku benar-benar dijauhi karena katanya aku yang minta. Tapi aku rasa bukan
itu alasan sebenarnya. Yah tidak perlu diperdebatkan memang. Toh jawaban yang
sama akan terlontar. Aku terima semua pernyataan dan jawaban dari pertanyaan
“kenapa aku merasa didatangi hanya saat butuh”. Intinya aku yang salah.
Selesai. Titik. Tidak masalah. Ini hanya persoalan perbedaan perasaan. Aku
merasa kalau perlakuannya itu bukan karena aku yang minta dijauhi tapi karena
ada alasan lain karena menjaga perasaan seseorang atau memang muak dan capek berteman denganku dan menemukan teman yang jauh jauh lebih asyik. Aku Cuma mau
kejujuran itu. Sedangkan kakak merasa itu karena permintaan aku sendiri yang
minta untuk dijauhi. Aku mengalah. Aku tidak mau cari masalah. Biarlah
pemahaman itu tetap seperti itu. Toh pertemanan dan persaudaraan ini akan tetap
berlanjut bukan. Meskipun selalu aku ingat “Segala sesuatu yang dikomunikasikan
itu berujung baik” tapi yah biarlah tetap seperti itu. Aku terima karena
mungkin memang aku yang salah :’) dan itu buah dari keras kepalaku dulu.
Kembali menceritakan masalah menjaga perasaan. Aku teringat ketika
beberapa bulan yang lalu dua orang sahabat bertanya kepadaku, lebih tepatnya
mewawancarai mungkin. Mereka mengajakku berbicara serius, dan menanyakan ada
hubungan apa antara aku dengan si kakak. Aku jawab tidak ada hubungan apa-apa.
Tapi kenapa ada yang beda dari hubungan kami yang dulu dengan sekarang, yang
dulu dekat sekarang tidak. Aku jawab karena memang sudah seharusnya seperti
itu. Aku berdiri di tempat yang sama hanya saja mungkin orang yang datang dan
pergi, orang lain pun mungkin berpikir yang sama. Sehingga kita merasa kita berdiri
di tempat masing-masing tidak ada yang berubah. Banyak pertanyaan pertanyaan
lain yang mereka tanyakan yang mungkin mereka lakukan demi menjaga perasaan aku
(indikasi ke-GR-an) atau apapun itu aku tidak peduli. Yang aku peduli hanya
satu. Jawaban-jawabanku tidak menyinggung perasaan mereka, dan tetap menjaga
perasaan si kakak dengan tidak melontarkan jawaban-jawaban yang aneh tentang
pertanyaan mereka dengan bagaimana kedekatan kami. Karena satu yang selalu aku
jaga pertemanan dan persaudaraan kita semua. Karena aku merasa mereka adalah
keluarga, anugerah terindah yang dititipkan Allah untuk tetap aku jaga
keeratannya :’). Mereka merasa ada yang beda dengan perlakuan si kakak dengan
salah satu dari mereka, dan mereka mencari tau apakah perlakuan yang sama juga
ditunjukkan terhadapku. Aku jawab seadanya sesuai dengan kenyataan. Dan aku
simpulkan. Memang berbeda. Aku sudah seperti saudara bagi kakak, pun aku
menganggap seperti itu. Selesai. Segala sesuatu yang dikomunikasikan itu selalu
berujung baik. Dan sore itu percakapan diakhiri dengan pelukan.
Banyak masalah masalah lain dan hal-hal lainnya dimana kita
dituntut untuk menjaga perasaan sesama makhluk ciptaan Allah. Khususnya
perasaan sesama manusia. Dan dari secuil cerita-cerita di atas aku diajarkan
bagaimana untuk peduli dan menjaga perasaaan seseorang. Terima kasih abang
koplak Tuyul Sungai Cigambreng, berkat kamu aku jadi tau bentuk kepedulian
tulus dan perhatian kecil yang bisa bikin orang merasa dianggap. Terima kasih
kakak, berkat kakak aku tahu bagaimana pentingnya menjaga perasaan seseorang,
meskipun aku sendiri merasa tidak diperlakukan seperti itu, tapi ketulusanmu
menganggapku sebagai seorang adik, teman, keluarga tidak pernah aku pertanyakan.
*pernah deng, seliwat. :D Terima kasih teman, berkat kalian aku tau, menjaga
perasaan demi ikatan persaudaraan itu jauh tak ternilai harganya dibanding
apapun :’).
#Al-Hayah - 04 : 20 pm - 14/01/2014

0 Response to "Peduli dan (menjaga) Perasaan"
Post a Comment