Boleh dibilang ini betul-betul minggu bahkan hitungan bulan yang tersulit. Siklus pertemanan itu ada. Ada saatnya kita dekat dengan seseorang, saling berbagi dan ada saatnya kita tidak lagi menjadi tempatnya bahkan untuk berbagi sekalipun. Ujian yang paling sulit ketika saya harus dihadapkan dengan siklus pertemanan ini. Teman-teman yang sampai saat ini masih bersedia menjadi tempat berkeluh kesah berkali-kali menegur saya dengan sedikit nada tinggi "Lo ngapain sih Ma jadi orang bego kayak begini, lo tuh ngga mikirin perasaan lo, ngga peduli ama diri lo, lo cuma stuck dan fokus di satu orang yang belum tentu peduli dan mikirin perasaan lo, lo bilang ngga pernah pake perasaan, tapi ini tuh udah indikasi perasaan lo ngalahin logika lo sendiri" berasa kesetrum aliran listrik beribu-ribu watt, hanya bisa diam berjuta bahasa, dengan pandangan sedikit kabur terhalang kaca-kaca bening di pelupuk mata *tsaaaah bahasanya euy -,-. Speechless dan ma'jleb. Tidak hanya kalimat-kalimat itu yang meluncur dari sahabat-sahabat tercinta, banyak kata-kata menusuk laiinya yang memang sangat ampuh bikin manusia sejenis saya untuk setidaknya sedikit tersadar. Akhirnya sampailah saya pada satu kesimpulan dan keputusan terbaik dari apa yang selama ini saya alami. Tidak ada maksud sama sekali untuk memutuskan hubungan silaturrahmi, oleh karena itu, lagi dan lagi harus ngorbanin perasaan dan menjadi lebih dewasa dalam bertindak dan bersikap, meskipun kadang ngerasa seperti ada tembok penghalang, tapi setidaknya usaha yang saya lakukan untuk tetap stay cool, keren, dan ceria itu bisa saya lakukan meski kadang terasa direspon aneh, but It's okay, itu ngebuktiin kalo apa yang saya lakukan ini adalah langkah awal saya menempuh sebuah perjalanan menuju kedewasaan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan memang, tapi semuanya butuh proses :') And I hope and I believe I will enjoy the process :)
Tapi hari ini seneng banget gy, serasa habis dapat pencerahan. Denger kisah dari seorang temen *sebut saja namanya Ica :) tentang hubungannya bersama seseorang, lika-liku hubungan mereka, betapa dewasanya sosok lelaki yang selama hitungan bulan ini menjalin hubungan istimewa dengannya. Bukan bermaksud mencontoh atau merasa iri, tapi lebih ngerasa kalau apa yang dia ceritakan itu bener-bener bisa membuat otak ini berpikir keras, bisa membuat hati ini *kalo orang sekarang bilang "ma'jleb".
Sosok yang selama ini mengisi hari-harinya bisa membuatnya menjadi lebih dewasa, lebih dewasa mengambil sikap, lebih dewasa mengambil keputusan. Itu yang saya simpulkan pada obrolan berdurasi 20 menit-an itu :) Satu hal yang membuat otak dan hati ini pada hari ini bekerja keras, sang teman bilang "Cowok Ica tuh orangnya cuek, dia ngga terlalu perhatian seperti cowok-cowok lain tapi dia dewasa banget, kalo ica ngambek pasti dia diemin aja, ngga nanya kenapa-kenapanya, dia juga pernah bilang apa sih pacaran itu, katanya dia ngga berhak ngatur-ngatur hidup Ica, karena masih ada orang tua, temen deket, dan kluarga yang lebih berhak ngatur dan ngasih perhatian lebih" kurang lebih seperti itu katanya. Tiba-tiba aja entah datang dari mana dorongan dan pikiran itu muncul. "Ica aja yang punya status yang berhak buat nuntut ini itu selama masih dalam koridor pacaran, tapi masih kuat buat ngehadapin pasangannya yang cuek bebek tapi ngajarin banyak hal buat Ica. Kamu yang nda punya status apa-apa Risma, ngapain capek-capek buang-buang air mata, buang-buang tenaga, berasa mau nuntut ini itu, padahal nda punya hak sama sekali. Toh kalo emang kamu punya niat pasti serius bukan untuk main-main, toh belum tentu orang yang saat ini -masih dan insyaAllah akan hilang- dari rotasi di otakmu nantinya menjadi imammu". wusssssshhhh itu benar-benar bikin ma'jleb, tapi bikin hati, jiwa, dan raga ini kembali siap melangkah sedikit demi sedikit hingga akhirnya berlari "tanpa menjauh" meninggalkan semua kenangan. Karena setidaknya kenangan itu adalah sepupu pengalaman yang bisa menjadi guru yang terbaik ^^
Semuanya demi kebaikan bersama. Ada do'a yang terselip di setiap sujud ini. Jadilah pribadi yang selalu rendah hati, lebih bersabar, selalu memohon pertolonganNya, dan tidak pernah melupakanNya :) Semoga semua yang "kakaknya" cita-cita kan segera terwujud :') Amiin Yaa Allah.
( Mian Oppa, Naneun Nareul Bogoshipda :'( )
#Al-Hayah 21:02 pm

0 Response to "Proses, Dewasa, Ikhlas :')"
Post a Comment